Mengajarkan Calistung di PG/TK

Ramai-ramai di media yang melarang anak-anak PG/TK diajarkan calistung (baca, tulis, hitung) membuat saya terpaksa melakukan sedikit riset di internet. Terus terang saya kaget dengan larangan ini dan mencoba mencari benang merahnya.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, memang ada 1-2 yang menurut saya bisa dibilang pendapat para ahli, tetapi sebagian besar tulisan nampaknya hanya mengikuti dan mengamini para ahli itu saja. Jadi semacam bandwagon effect alias ikut-ikutan.

Dan setelah dibaca dengan cermat benang merahnya sebetulnya adalah "larangan menyaring siswa masuk SD dengan test calistung" yang akhirnya menyebabkan TK terpaksa untuk mengajarkan calistung ini kepada siswa-siswinya agar kelak bisa diterima di SD yang diinginkan.

Dari benang merah ini kemudian para ahli menjelaskan aspek-aspek yang mendukung pelarangan anak-anak usia dini diajarkan calistung, misalnya mengenai kemampuan otak anak yang belum siap menerima pelajaran kognitif. Para psikolog pun buru-buru sepakat dan mengatakan bahwa kalau dipaksakan belajar dari usia dini maka nantinya anak-anak jadi trauma, dst, dst.

Weleh,weleh. Kok malah jadi begini? Bukankah usia dini adalah usia emas untuk mengajarkan anak-anak? Bukankah otak mereka katanya seperti sponge yang mudah menyerap apapun yang diajarkan kepada mereka?

Saya bukan psikolog, tetapi saya seorang guru dan saya juga memiliki anak. Menurut saya bukan masalah calistungnya, tetapi cara mengajarnya yang menjadi masalah. Apapun kalau dipaksakan kepada anak pasti hasilnya menjadi trauma! Mau mengajarkan sholat dari usia kecil dengan memaksa? Mengajar baca quran dengan paksaan? Saya sepakat, itu bisa menjadikan trauma. Tetapi janganlah hal tersebut lantas menghentikan kita mengajarkan anak-anak kita hal-hal positif yang akan dibutuhkan kelak.

Tentu ada step-stepnya sampai kita bisa memaksa anak dan menghukumnya apabila tidak melakukannya. Misalnya agar di usia 10 tahun anak bisa dihukum kalau tidak sholat, tentu sejak usia 7 tahun sudah harus diajak sholat. Dan supaya di usia 7 tahun gampang diajak sholat, tetntu di usia yang masih dini sudah harus kita kenalkan sholat, kita ajak ke masjid walaupun hanya main-main dan melihat-lihat.

Calistung adalah modal dasar anak-anak untuk bersaing di kemudian hari. Bernie Trilling menyarankan untuk mempersiapkan siswa di abad 21 ini dengan  3R (Reading, ’Riting and ’Rithmetic ) and 7C  (Critical Thinking-and-Doing, Creativity, Collaboration, Cross-cultural Understanding, Communication, Computing, Career & Learning Self-reliance).

Istilah 3R diterjemahkan menjadi Calistung di Indonesia. Riza Wohono dalam tulisannya di http://www.technonatura.sch.id/node/837 menambahkan 1 R lagi yaitu Religius menjadi 4R.

Kembali ke permasalahan awal, apakah calistung tidak boleh diajarkan di usia dini? Saya malah bukan hanya boleh, tetapi harus! Tetapi dengan cara yang benar.

Dengan mengenalkan huruf-huruf di makanan atau mainan sebetulnya kita sudah mulai mengajarkan membaca. Tentu ada banyak cara mengenalkan anak-anak dengan calistung, saya ingin sharing cerita bagaimana saya mengajarkan berhitung kepada anak saya yang kedua (laki-laki) sejak TK, namanya Ivan.

Caranya adalah dengan menghitung point yang bisa diperoleh ketika dia mengerjakan kebaikan dan akan berkurang apabila dia melakukan hal yang buruk. Jika pointnya mencapai 100 point, dia berhak dibelikan mobil-mobilan hotwheels. Kalau bisa sampai 300 poin maka mobil-mobilena remote siap menanti.

Si anak saya suruh mengingat pointnya sendiri yang setiap saat bisa saya tanyakan. Berikut contoh point yang bisa dihasilkan:

  • Makanan habis dimakan = 10 poin
  • Mandi = 10 poin
  • Sholat = 10 poin
  • Sholat di masjid = 25 poin
  • Sholat di masjid khusu' = tambah 5 poin
  • Membuang sampah di tempatnya +5
  • Menaruh piring kotor di dapur +5

Yang bisa mengurangi poin

  • Marah-marah sambil melempar barang - 50
  • makanan tidak dihabiskan - 10
  • dll

Ketika kelas 1 SD bahkan saya tambahkan konsep hutang poin, ketika pointnya baru 200+ tetapi dia ingin mobil remote, dia berhutang -100 point yang harus dibayarnya.

Dengan cara seperti itu, kita tetap bisa mengajarkan anak berhitung tanpa melakukan pemaksaan dan hasilnya positif.

Demikian opini dan sharing saya mengenai calistung ini.