Artikel Matematika

Pola untuk membuat bola (jaring2 bola)

cake bola

Kemarin dapet tugas dari istri untuk membuat pola dari fondant untuk membuat cake bola seperti gambar di atas. Hmmm... tugas yang menarik karena melibatkan pemanfaatn matematika dalam kehidupan sehari-hari. Cocok buat bahan tulisan di blog ini.

Pada prinsipnya saya dikasih bola dari styroform dengan diameter 15 cm. Tugasnya adalah membuat tempelan fondant hitam dan putih sehingga membentuk bola seperti gambar tersebut. Menarik. Ini adalah contoh nyata aplikasi geometri dalam kehidupan sehari-hari.

Kotor Tidak Korupsi vs Santun Tapi Korupsi?

santun tapi korupsi

Matematika hadir, salah satunya adalah untuk memodelkan dan menyelesaikan problem sehari-hari. Dengan pemodelan matematika kita bisa mencari solusinya dengan mudah dan akurat.

Saat ini beredar di media-media semacam "kampanye" yang pada prinsipnya mengatakan "lebih baik kotor (kasar) tapi tidak korupsi daripada santun tapi korupsi". Sebetulnya tidak ada yang salah dari kalimat tersebut, tetapi masalahnya muncul ketika kalimat tersebut kemudian berkembang ke arah disjungsi, seolah-olah pilihannya adalah cuma dua : kotor tidak korupsi atau santun tapi korupsi.

Pembagian Yang Aneh

pembagian yang aneh

Kemaren nemu soal dan jawaban seperti di bawah ini di Facebook, tetapi tidak ada gambarnya.  Saya tulis di sini sebelum lupa dan saya buatkan gambar ilustrasinya biar lebih jelas. Siapa tahu bisa buat ide mengajar nanti.

Soal:

Berapakah 8 dibagi 2?

Jawab:

Tergantung cara membaginya. Kalau dibagi secara horizontal hasilnya masing-masing dapet 0. Sedangkan kalau dibagi secara vertical hasilnya adalah 3.

Soal Cerita Tentang Integral

Idealnya soal matematika itu dalam bentuk soal cerita sehingga bisa mengevaluasi apakah siswa bisa memahami konteks bukan sekedar rumus. Diharapkan dengan begitu matematika benar-benar berfungsi sebagai alat bantu penyelesaian masalah sehari-hari. Namun kadang-kadang sebagai guru, kita sudah kehabisan ide untuk menulis soal cerita.

Kesalahan Logika Dalam Kasus Larangan Jilbab BUMN

Beberapa hari terakhir dunia maya dihebohkan oleh kasus "larangan jilbab shar'i" di kementerian BUMN. Menganalisa kesalahan adalah salah satu cara paling cepat untuk belajar. Untuk itu mari kita analisa kesalahan logika tersebut. Bagi yang belum baca, saya sarankan baca dahulu artikel berikut supaya lebih paham.

Deduksi dan Induksi

Pengambilan kesimpulan deduktif dilakukan dengan mengambil premis yang umum dan kemudian diberlakukan ke kasus spesifik. Sedangkan induktif, sebaliknya, dari beberapa kasus spesifik dibuat kesimpulan generalisasinya.

Deduktif

Cara deduktif sangat sederhana, selama premis general nya benar, maka kita bisa ambil kesimpulan kasus spesifiknya juga benar selama kasus spesifik tersebut adalah bagian dari premis general.

Contoh:

Premis 1: Semua rakyat Indonesia cinta tanah air

Premis 2: Saya adalah rakyat Indonesia

Silogisme

Silogisme adalah salah satu pengambilan kesimpulan yang dibenarkan menurut kaidah logika. Silogisme bekerja dari dua premis yang berbentuk jika p maka q. Kalau dituliskan rumusnya sebagai berikut:

Premis 1 : Jika a maka b

Premis 2 : Jika b maka c

Kesimpulan : Jika a maka c

Contoh :

Premis 1 : Jika kamu belajar maka kamu akan lulus ujian

Premis 2 : Jika kamu lulus ujian maka kamu akan mendapat hadiah sepeda motor.

Kesimpulan : Jika kamu belajar maka kamu akan mendapat hadiah sepeda motor

Modus Tollens dan Modus Ponen

Modus Ponen

Modus ponen adalah salah satu cara pengambilan kesimpulan (argumentasi) yang paling sederhana dan dibenarkan secara kaidah logika dan mungkin adalah yang paling sering kita gunakan. Dia bekerja berdasarkan premis kalimat majemuk jika p maka q. 

Contoh :

Premis1 : Hewan Mamalia Bernafas dengan paru-paru

Premis2 : Hewan ini adalah hewan mamalia

Kesimpulan : Hewan ini  bernafas dengan paru-paru

Bagaimana Membuat Kesimpulan Yang Benar?

Alkisah suatu madrasah di Depok kedatangan seorang dosen tamu, seorang ahli matematika yang bernama Matsur. Berikut percakapannya mereka di ruang guru:

Guru1 : "Pak Matsur hari ini materi yg akan disampaikan tentang apa?"

Matsur : "Tentang Silogisme!"

Guru1 : "Waduh, apa itu silogisme?"

Matsur : "Begini, ... hmm... apakah bapak piara kucing di rumah?"

Guru1 : "Ya, kami piara kucing"

Jika Jokowi Presiden Rupiah Bisa Tembus Rp 10.000

rupiah menguat jika

Kalimat Matematika "Jika Jokowi Presiden Rupiah Bisa Tembus Rp 10.000 per dolar" adalah kalimat matematika dalam bentuk jika p maka q. Apakah ingkaran dari kalimat tersebut?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menuliskan sekilas mengenai kalimat ingkaran (negasi)

Ingkaran adalah suatu kalimat yang menyatakan sebaliknya dari pernyataan sebelumnya. Misalnya kalimat "saya lapar" memiliki kalimat ingkaran "saya tidak lapar" atau "saya kenyang"

Halaman